” BATIK TRUSMI ” BERJALAN TANPA CAMPUR TANGAN TEKNOLOGI MODERN


Denyut kehidupan batik menjalar dijalan kampung, gang sempit, dan rumah sederhana di Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. Perempuan dan laki-laki larut menghasilkan lembaran kain batik bercorak pesisiran dan keratonan khas Cirebon. Lagi-lagi semua dibuat secara tradisional dan manual.

Menurut perajin batik Trusmi, Masnedi Masina (60), proses membatik yang berkembang di Desa Trusmi masih menggunakan teknologi tradisional. Belum ada penerpan teknologi canggih yang menggantikan teknologi rintang celup dengan media lilin dalam pewarnaan kain batik. Teknologi tradisional itu masih bertahan, bahkan menjadi kekuatan batik tulis trusmi ang tidak ditemukan pada batik-batik pesisir lain, seperti batik asal pekalongan.

Ada lima tahapan membatik yang secara umum juga berlaku didaerah lain, dimulai dengan renggeng atau menggambar motif pada kain katun, dilanjutkan dengan ngiseni, yaitu membuat titik-titik pada pola gambar tersebut. Langkah selanjutnya, merintangi gambar dengan lilin atau nembok, sebelum mencelupkannya kedalam kuali yang sudah diberi zat pewarna. Yang terakhir adalah ngelorot, yaitu melepaskan lilin dengan cara merebus kain.

Untuk memperoleh warna yang beragam, dua sampai empat warna yang berbeda, proses ngiseni hingga ngelorot juga harus diulang dua sampai empat kali. Untuk menghasilkan sepotong kain batik bercorak warna-warni dengan desain yang rumit dibutukan waktu empat sampai tujuh hari. Itu pun bergantung terik matahari yang dimanfaatkan perajin batik untuk mengeringkan kain setelah dilorot.

Sampai sekarang perajin batik trusmi belum mengenal atau menerapkan teknologi baru pembatikan. Mereka bertahan dengan cara lama. Kalaupun ada, hanya sebatas teknik cap atau sablon. Namun, jumlahnya juga tidak banyak. “perbandingannya 50-50. Itu juga akan berpengaruh pada harga dan hasilnya,” ujar Masnendi yang tetap mempertahankan batik tulis.

Kama (52), pembatik yang khusus membuat motif mega mendung mengakui, sebagian besar perajin batik trusmi belum tersentuh teknologi modern. Kalaupun ada, itu hanya dalam proses membatik, berupa peralihan bahan bakar minyak tanah ke gas. Pernah digunakan canting listrik untuk menggantikan canting tradisional. Namun, hasilnya tidak optimal. Sebab, lilin (malam) yang dimasukkan ke canting cepat mengering dan hasilnya tidak bagus ketika ditorehkan pada kain.

“Saya pernah mencoba dengan model cap, tapi tidak bagus hasilnya. Tidak terlihat gradasi warnanya,” kata Kama.

Ada rupa ada harga

Perkembangan teknologi mungkin tak terlihat pada batik trusmi. Namun gelora desain jelas sekali terbaca. Mega mendung menjadi motif primadona batik trusmi. Padahal, dulu motif yang konon diciptakan oleh salah seorang pangeran di Keraton Kasepuhan itu kalah pamor dengan motif-motif wadasan, seperti paksi naga liman, singa barong, naga seba, dan kancil emas.

Penyebabnya, batik-batik motif wadasan yang banyak detail itu lebih rumitdalam pengerjaannya. Selain itu, konsumen juga ingin memperoleh batik dengan harga murah. Asalkan motifnya batik, bukan proses membatiknya, tentu saja dengan harga murah, pasti akan dibeli. Kini lembar kain batik bisa dibeli dengan harga Rp 60.000-Rp 70.000. adapun kemeja batik pria atau baju batik peempuan dijual mulai Rp 30.000 per potong.

Biasanya batik yang mahal cenderung untuk koleksi. “batik tulis motif sawit penganten ini saya jual Rp 6 juta per lembar. Ini juga motif khas trusmi Cirebon yang tak pernah dimodifikasi. Kalau batik pasar, seperti mega mendung, paling banyak dimodifikasi desainna,”kata Masnedi.

Setiap motif batik punya cerita. Sawit penganten misalnya, bercerita tentang kondisi kota cirebon dan lingkungan keraton. Ada pula motif siti inggil sunyaragi dan taman arum sunyaragi yang termasuk jenis batik Cirebon bercorak keratonan. Sementara corak pesisiran yang populer, misalnya weringin rungkat, pucung kanginan, dan dara tarung.

Dengan kearifan dan pemaknaan pada tiap motif batik itu, para perajin batik yakin mampu bertahan meski ada teknologi canggih yang akan menggeser batik trusmi yang dibuat secara tradisional. “banyak kok yang masih cari batik tulis manual, apalagi turis yang suka motif-motif kuno dan jarang ada dipasar,” kata Suera penuh keyakinan.

sumber : http://megapolitan.kompas.com/

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: